TAMASYA Ke-168 di Yasmin Bogor: Menjaga Ikatan Iman dan Tradisi Keilmuan di Tengah Tantangan Era AI

Bogor, 30 Mei 2026 — Program rutin TAMASYA (Ta’lim dan Maulid Sabtu/Ahad) Putaran ke-168 kembali digelar di kediaman Bapak Didi Supardi, Perumahan Taman Yasmin Sektor 1, Jalan Teratai 1, Kota Bogor, Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan yang dihadiri puluhan jamaah dari berbagai wilayah ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan, diawali pembacaan Maulid Simthudduror, dilanjutkan kajian kitab dan silaturahim antar peserta.

Dalam sambutannya selaku shahibul bait, Bapak Didi Supardi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Beliau juga mengapresiasi tim TAMASYA yang datang dengan perlengkapan kegiatan secara mandiri, sehingga tidak membebani tuan rumah. Sikap tersebut dinilai mencerminkan semangat khidmah dan kebersamaan.

Sementara itu, Kang Mahfudz dalam sesi pengantar berbagi pengalaman awal keterlibatannya dalam kegiatan mudzakarah. Ia mengaku bergabung karena rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu agama.

Ketekunan mengikuti majelis ilmu tersebut, menurutnya, menjadi salah satu sebab istiqamahnya hingga saat ini dalam menghadiri berbagai kegiatan kajian.

Beliau juga pada kesempatan Ini Menyampaikan Kemuliaan dalam Ketaatan kepada Allah SWT.

Lanjutnya Kang Mahfudz menjelaskan tentang berbagai kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan beramal saleh dengan ikhlas.

Beliau membacakan sejumlah atsar dan hikmah para ulama, di antaranya hadis qudsi yang menyebutkan bahwa Allah telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, maupun terlintas dalam hati manusia.

Beliau juga mengutip hikmah yang disebutkan dalam Kitab Zabur:
“Wahai anak Adam, taatilah Aku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan rasa cukup, kedua tanganmu dengan rezeki, dan tubuhmu dengan kesehatan.”

Selain itu beliau menyampaikan pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan dunia. Allah mewahyukan kepada dunia:
“Barangsiapa mengabdi kepada-Ku, maka layanilah dia. Dan barangsiapa mengabdi kepadamu, maka jadikanlah ia pelayanmu.”

Dalam muqaddimah kajiannya, Kyai Ahmad Sa’id Sebagian Narasumber Utama Menjelaskan Bagaimana Kita Harus
Menjaga Sanad Keilmuan di Era Kecerdasan Buatan
menyoroti tantangan besar dunia keilmuan Islam di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Beliau mengingatkan jamaah agar tidak mudah menerima informasi keagamaan tanpa proses verifikasi kepada sumber-sumber yang sahih.
Beliau mencontohkan pengalaman saat melakukan pengecekan terhadap sejumlah nukilan yang diklaim berasal dari kitab-kitab syarah hadis.

Setelah ditelusuri langsung pada kitab-kitab rujukan, ternyata teks tersebut tidak ditemukan sebagaimana yang diklaim.
Karena itu, beliau menegaskan pentingnya metode para ulama dalam menjaga validitas ilmu melalui sanad dan rujukan yang jelas.

Beliau mengutip perkataan ulama salaf:
“Al-isnadu minad din, wa laulal isnadu laqala man sya’a ma sya’a.”
“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya setiap orang akan berkata sesuka hatinya.”
Menurut Beliau, kemudahan teknologi hendaknya dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan dijadikan pengganti proses talaqqi, belajar kepada guru, dan merujuk langsung kepada kitab-kitab para ulama.

Pada sesi utama, Kyai Ahmad Sa’id melanjutkan pembahasan Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Bab Hak-Hak Istri, Hadis Nomor 277.
Hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Mu’awiyah bin Haidah radhiyallahu ‘anhu tersebut menjelaskan kewajiban suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik, memberi makan ketika dirinya makan, memberi pakaian ketika dirinya berpakaian, tidak memukul wajah, tidak mencela, serta tidak melakukan pemboikotan kecuali di dalam rumah.

Beliau menjelaskan bahwa Islam sangat menekankan penghormatan kepada perempuan, khususnya istri, sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.

Kyai Ahmad Sa’id juga mengingatkan pentingnya pendidikan keluarga dan pewarisan ilmu dari orang tua kepada anak-anak. Menurut beliau, tradisi keilmuan Islam sejak generasi sahabat hingga para imam besar selalu dibangun melalui proses belajar yang berkesinambungan dalam lingkungan keluarga dan majelis ilmu.

Menjaga Ikatan Iman
Menutup kajian, Kyai Ahmad Sa’id mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga ikatan iman, memperkuat hubungan dengan para ulama, serta istiqamah menghadiri majelis ilmu.

Beliau mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Kahfi ayat 14:
“Wa rabathna ‘ala qulubihim.”
“Dan Kami teguhkan hati mereka.”
Menurutnya, di tengah berbagai tantangan zaman, ikatan iman menjadi modal utama agar umat Islam tetap teguh dalam agama, mendapatkan keberkahan hidup, serta keselamatan dunia dan akhirat.

Menjelang siang, acara ditutup dengan doa dan dilanjutkan ramah tamah dan makan siang bersama seluruh jamaah dalam suasana penuh keakraban.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualistik, majelis seperti TAMASYA menjadi pengingat bahwa tradisi ilmu, shalawat, dan silaturahmi masih hidup dan terus tumbuh di tengah umat.

Dan kami selaku Penanggung Jawab Kegiatan Tamasya Berterima Kasih Sebesar-besarnya Kepada Para Pendukung Acara, yang Sudah Terlibat sebagai Donatur, Membantu Dengan Tenaga, Doa dan Lain Sebagainya,

Dan Kami Juga Selaku Penanggung Jawab juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Minggu yang akan datang.

Untuk informasi lebih lanjut:

Konfirmasi Pengajuan Tempat

Penanggung Jawab Tamasya
Yogi Setiawan
(089638202536)

Infaq Acara Transfer Ke :
BSI ( Bank Syariah Indonesia )
A/n Majlis Ta’lim Darul Futuh
7755777883
( Konfirmasi ke Nomor WA diatas)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Klo Mau Lebih Lengkapnya Mari Nonton Link di bawah ini 👇

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kategori Terpopuler

Kategori Nasehat

Scroll to Top