BOGOR, — Kegiatan Ta’lim Maulid Sabtu Ahad (Tamasya) putaran ke-185 kembali menjadi ruang penguatan ukhuwah Islamiyah dan pendalaman ilmu agama. Bertempat di Masjid Al-Ittihad, kawasan Sindang Barang Pengkolan, Kota Bogor, kegiatan ini mempertemukan jamaah dalam suasana religius yang memadukan tradisi keilmuan pesantren, silaturahmi, dan penguatan kesadaran akan kehidupan akhirat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Maulid Simtud Durar, dilanjutkan pembacaan tahlil, sambutan tuan rumah, penampilan Prostadz (Proses Menjadi Ustadz), kajian kitab Riyadhus Shalihin, serta ramah tamah antarjamaah.
Dalam sambutannya, Ustaz Didin selaku perwakilan tuan rumah sekaligus unsur Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Ittihad menyampaikan harapan agar kegiatan Tamasya terus berkembang dan menambah titik-titik penyelenggaraan di tengah masyarakat. Dengan demikian, majelis ilmu tidak hanya menjadi kegiatan rutin, tetapi juga sarana memperluas manfaat dakwah dan mempererat hubungan antarmasyarakat.
Tamasya Bukan Sekadar Pengajian, tetapi Gerakan Kemandirian Jamaah
Dalam sesi Prostadz, Ustaz Irfan mengapresiasi karakter Tamasya yang mengedepankan kemandirian dan semangat gotong royong. Menurutnya, kegiatan ini memiliki keunikan karena jamaah turut membawa dan menyiapkan berbagai kebutuhan acara, mulai dari perlengkapan hingga logistik dan konsumsi.
Semangat tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan majelis tidak hanya bertumpu pada satu pihak, melainkan tumbuh dari kontribusi bersama seluruh jamaah.
Ustaz Irfan juga memperkenalkan istilah TAMUMU, yang merangkum tiga nilai utama gerakan ini, yakni Tamasya, Mudzakarah, dan Muwasholah. Ketiganya menjadi fondasi untuk menjaga kesinambungan tradisi keilmuan, mengulang dan memperkuat pemahaman agama, serta menyambungkan hubungan antara murid, guru, ulama, dan sesama jamaah.
Ia turut menyampaikan pemaknaan Tamasya sebagai pengingat dakwah: “TA” berarti taat kepada Allah, “MAS” berarti menyingkirkan maksiat, dan “YA” berarti yakin akan akhirat. Pemaknaan ini menjadi ajakan agar kehadiran di majelis tidak berhenti sebagai rutinitas, melainkan berbuah perubahan perilaku dan orientasi hidup.
Putaran ke-185 dan Pesan Kematian dalam Surah Ali Imran
Menariknya, Ustaz Irfan mengaitkan angka putaran ke-185 dengan Surah Ali Imran ayat 185, yang mengingatkan setiap manusia bahwa kematian merupakan kepastian dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak semata-mata diukur melalui pencapaian duniawi. Setiap Muslim perlu mempersiapkan bekal akhirat melalui keimanan, amal saleh, ketaatan, serta kesungguhan memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Kajian Riyadhus Shalihin: Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga dalam Timbangan Agama
Sebagai narasumber utama, Kyai Ahmad Said melanjutkan kajian kitab Riyadhus Shalihin, khususnya pembahasan hadis ke-287, yang mengangkat persoalan relasi suami istri dan peringatan tentang perilaku yang menyakiti pasangan.
Dalam pengantarnya, Kyai Ahmad Said menyampaikan apresiasi kepada para asatidz, tokoh masyarakat, unsur pemerintahan setempat, serta pengurus DKM Masjid Al-Ittihad yang mendukung terselenggaranya majelis. Ia juga berharap masjid senantiasa dimakmurkan melalui kegiatan keagamaan yang membawa keberkahan bagi jamaah dan masyarakat sekitar.
Dalam uraian syarah hadis, Kyai Ahmad Said merujuk pada penjelasan sejumlah ulama, di antaranya Imam Al-‘Alqami, Syekh Zaidan, Ibnu Malak, dan Ali Al-Qari. Pembahasan diarahkan pada pentingnya memahami hak dan tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga, menjaga adab terhadap pasangan, serta menghindari perilaku yang dapat merusak keharmonisan keluarga.
BIDADARI SURGA MENDOAKAN ISTRI YANG MENYAKITI SUAMI
Tidak ada seorang istri menyakiti suaminya di dunia kecuali istri suami tadi yang berupa bidadari itu akan mendoakan istrinya yang dunia. Istrinya yang mengganggu tadi akan didoakan sama bidadari:
قَاتَلَكِ اللَّهُ
“Semoga engkau diperangi sama Allah. Semoga engkau mendapatkan hukuman setimpal dari Allah.”
Sesungguhnya suami kamu itu hanyalah seorang tamu yang mampir sementara, sebentar lagi dia bakal kembali kepada kami di surga. Ini yang bikin jadi gagal total. Kata Rasulullah ﷺ di hadis kemarin:
لَوْلَا مَا يَأْتِينَ إِلَى أَزْوَاجِهِنَّ
“Andai kata bukan gara-gara apa yang dia perbuat kepada para suaminya.”
Hampir-hampir mereka para istri yang rajin sholat tersebut bakal masuk surga. Tapi gara-gara bermasalah dengan suami, gagal total. Ada dua poin daripada pembahasan hadis tersebut. Yang pertama, tentang tema istri yang mengganggu suami, bahayanya bagaimana? Seperti ini, dia didoakan bidadari. Terus yang kedua, kemarin gangguannya, ya, gangguan istri tadi walaupun istrinya sudah ada ciri-ciri surga, ciri-ciri rahmat Allah Subhanahu wa taala.
Kyai Ahmad Said juga menguraikan gambaran kenikmatan surga berdasarkan sejumlah riwayat, termasuk tentang bidadari, pelayanan bagi penghuni surga, dan keadaan anak-anak yang kekal muda. Penjelasan tersebut disampaikan dengan selingan humor yang mengundang respons jamaah, sehingga pembahasan kitab klasik terasa dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Namun, pesan yang mengemuka bukan sekadar gambaran kenikmatan surga, melainkan pentingnya menjadikan kehidupan dunia sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Rumah tangga yang harmonis perlu dibangun melalui ilmu, kesabaran, kasih sayang, saling menghormati, dan kesediaan menuntun keluarga menuju kebaikan.
Pembahasan mengenai ancaman bagi perilaku menyakiti pasangan juga perlu dipahami dalam kerangka ajaran Islam secara utuh: hak dan kewajiban berlaku bagi kedua belah pihak, sementara kehidupan rumah tangga semestinya dijalankan dengan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf, yakni memperlakukan pasangan secara patut dan penuh kebaikan.
Dari Majelis Ilmu Menuju Perubahan Nyata
Tamasya putaran ke-185 di Masjid Al-Ittihad menegaskan bahwa majelis taklim memiliki peran lebih luas daripada sekadar forum mendengarkan ceramah. Di dalamnya terdapat upaya merawat tradisi keilmuan, membangun kemandirian jamaah, memperluas silaturahmi, serta menanamkan kesadaran bahwa ilmu harus berujung pada amal.
Melalui perpaduan pembacaan maulid, tahlil, kajian kitab, dan kebersamaan ant jamaah, Tamasya diharapkan terus tumbuh sebagai ruang dakwah yang terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, pesan Surah Ali Imran ayat 185 menjadi penegas seluruh ikhtiar tersebut: kehidupan dunia memiliki batas, sementara pertanggungjawaban akhirat merupakan kepastian. Karena itu, memperbanyak ilmu, menjaga keluarga, memakmurkan masjid, dan istiqamah menghadiri majelis merupakan bagian dari ikhtiar menyiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi.
Tamasya bukan hanya perjalanan menghadiri majelis, melainkan ikhtiar menata kehidupan agar lebih dekat kepada Allah, lebih baik dalam bermasyarakat, dan lebih siap menghadapi akhirat.
Dan Kami Juga Selaku Penanggung Jawab juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Minggu yang akan datang.
Untuk informasi lebih lanjut:
Konfirmasi Pengajuan Tempat
Penanggung Jawab Tamasya
Yogi Setiawan
(089638202536)
Infaq Acara Transfer Ke :
BSI ( Bank Syariah Indonesia )
A/n Majlis Ta’lim Darul Futuh
7755777883
( Konfirmasi ke Nomor WA diatas)
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Klo Mau Lebih Lengkapnya Mari Nonton Link di bawah ini 👇