Tamasya ke 184 – Dari Sanad Keilmuan hingga Ketahanan Moral Keluarga

BOGOR — Majelis Miftahussubhan, Kampung Pancagalih, Sindang Barang Loji, Bogor, menjadi titik berkumpulnya ratusan jamaah dalam Tamasya Putaran ke-184, sebuah majelis keilmuan yang secara konsisten menghadirkan kajian agama sekaligus memperkuat silaturahmi masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri para jamaah dari Majelis Darul Futuh dan masyarakat sekitar. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Maulid Simthud Durar, tahlil, sambutan tuan rumah, penampilan Prostadz, kajian Kitab Riyadhus Shalihin, dan ditutup dengan ramah tamah.

Ketua RT setempat Bapak Wahyono, yang mewakili Shohibul Bait dan pengurus Majelis Miftahussubhan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para ulama, ustaz, ustazah, dan jamaah.

Ia berharap kehadiran para ahli ilmu di wilayah Pancagalih membawa keberkahan bagi masyarakat.

“Mudah-mudahan dengan kehadiran para kiai, ustaz, ustazah, dan jamaah dari Majelis Darul Futuh di wilayah kami dapat memberikan keberkahan,” ujarnya.

Wahyono juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun jamuan. Ia secara khusus mengapresiasi warga yang telah bergotong royong membantu terselenggaranya kegiatan.

Sanad Keilmuan Menjadi Penjaga Kemurnian Ajaran

Dalam sesi Prostadz (Proses Menjadi Ustadz), Ustaz Aziz Mantarena menekankan pentingnya proses panjang dalam menuntut ilmu dan memilih guru.

Menurutnya, seseorang tidak semestinya terburu-buru menempatkan diri sebagai pengajar agama tanpa melalui proses pendidikan dan bimbingan guru yang jelas.

“Proses menjadi ustaz itu lama. Tidak sembarangan mencari guru. Harus bersanad,” tegasnya.

Ia mencontohkan pentingnya ketelitian dalam membaca lafaz-lafaz keagamaan, termasuk bacaan yang sering dilantunkan dalam momen Mahalul Qiyam. Menurutnya, kesalahan bacaan dapat terus diwariskan apabila seseorang hanya mengikuti kebiasaan tanpa mendapatkan koreksi dari guru yang memiliki otoritas keilmuan.

Selain persoalan sanad, Ustaz Aziz juga mengangkat sejumlah sunnah wudhu berdasarkan kajian dari kitab Ihya’ al-Sunan al-Mahjurah karya Habib Sa’ad Alaydrus. Di antaranya sunnah berwudhu dalam keadaan duduk, menghadap kiblat, serta anjuran berwudhu ketika seseorang sedang marah.
Ia kemudian mengingatkan jamaah agar tidak berhenti menghadiri majelis ilmu.

“Ngaji mingguan seperti Tamasya ini sangat penting. Jangan bosan untuk terus duduk bersama ahli khair, para ulama. Tetapi ketika duduk bersama alim ulama, harus disertai adab,” pesannya.

Riyadhus Shalihin dan Krisis Kesalehan Sosial

Sebagai narasumber utama, Kyai Ahmad Said mengajak jamaah memahami kembali fungsi majelis ilmu sebagai ruang pembentukan kesalehan pribadi sekaligus kesalehan sosial.

Mengawali kajian, Kyai Ahmad Said mengaitkan nama Majelis Miftahussubhan dengan makna tasbih dan harapan agar jamaah yang hadir menjadi orang-orang yang gemar berdzikir, bertasbih, dan menuntut ilmu.

“Mudah-mudahan dengan hadirnya kita di Majelis Miftahussubhan, kita menjadi ahli tasbih, ahli zikir, dan setelah Allah muliakan menjadi ahli zikir dan tasbih, Allah angkat derajat kita menjadi orang yang ahli ilmu,” tuturnya.

Kajian kemudian berlanjut pada Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, khususnya hadis tentang hubungan suami dan istri.

Kyai Ahmad Said menjelaskan bahwa Riyadhus Shalihin dapat dipahami sebagai salah satu rujukan untuk melihat karakter dan standar amal orang-orang saleh. Pembahasan kitab tersebut dimulai dari persoalan fundamental seperti keikhlasan, tobat, kesabaran, muraqabah, dan ketakwaan.

Menurutnya, kesalehan tidak berhenti pada kesalehan individual. Masyarakat juga membutuhkan orang-orang yang aktif mengajak kepada perbaikan.

“Tidak cukup kita menjadi orang saleh saja. Kita juga harus menjadi muslihin, orang-orang yang membawa kebaikan,” jelasnya.

Majelis Taklim sebagai Benteng Masyarakat

Kyai Ahmad Said menekankan pentingnya menghidupkan majelis taklim di tengah masyarakat. Menurutnya, keluarga dan lingkungan sekitar perlu diarahkan untuk dekat dengan masjid, majelis ilmu, ulama, dan orang-orang saleh.

Ia menilai majelis taklim bukan sekadar tempat memperoleh pengetahuan agama, melainkan juga ruang untuk membangun lingkungan sosial yang memiliki orientasi pada kebaikan.

Dalam konteks tersebut, Tamasya yang telah berjalan secara berkelanjutan dipandang sebagai salah satu ikhtiar untuk membawa tradisi keilmuan lebih dekat ke tengah masyarakat.

“Kita tidak menunggu masyarakat datang. Kita yang harus mendatangi kampung-kampung, mengajak keluarga dan masyarakat ke tempat-tempat kebaikan,” ungkapnya.

Kyai Ahmad Said juga mendorong masyarakat Bogor untuk mengenal dan menziarahi para ulama serta wali yang menjadi bagian dari sejarah keislaman daerah tersebut, termasuk kawasan Empang yang dikenal sebagai salah satu pusat sejarah keulamaan di Bogor.

Hadis tentang Rumah Tangga: Antara Adab dan Tanggung Jawab

Memasuki pembahasan utama Riyadhus Shalihin, Kyai Ahmad Said menguraikan hadis dari Mu’adz bin Jabal RA tentang larangan seorang istri menyakiti suaminya.
Hadis tersebut diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dan dinilai hasan gharib oleh beliau.

Kyai Ahmad Said menjelaskan bahwa hadis tersebut mengandung pesan penting mengenai adab dalam kehidupan rumah tangga. Relasi suami dan istri, menurutnya, tidak semata-mata berkaitan dengan hak dan kewajiban, tetapi juga membutuhkan penghormatan, kesabaran, dan pengendalian lisan.

Pembahasan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar persoalan rumah tangga tidak dipandang ringan, karena kualitas keluarga memiliki hubungan erat dengan kualitas masyarakat.

Sanad dan Otoritas Guru di Era Informasi

Salah satu pesan paling kuat dalam kajian Tamasya Putaran 184 adalah pentingnya memastikan sumber ilmu dan guru yang menjadi rujukan.

Kyai Ahmad Said mengingatkan jamaah agar tidak menyamakan seluruh sumber pengajaran agama tanpa terlebih dahulu mengetahui latar belakang pendidikan, guru, dan jalur keilmuan seorang pengajar.

“Kalau mengundang ustaz, tanyakan dulu mondoknya di mana, berguru kepada siapa, berapa lama, dan bagaimana silsilah sanad keilmuannya,” pesannya.

Menurutnya, tradisi sanad merupakan bagian dari mekanisme transmisi ilmu yang bertujuan menjaga ketelitian dan kesinambungan ajaran.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus informasi keagamaan melalui media digital, ketika masyarakat dapat dengan mudah menemukan berbagai ceramah tanpa selalu mengetahui latar belakang keilmuan sumbernya.

Tamasya dan Ikhtiar Menghidupkan Tradisi Ilmu

Tamasya Putaran 184 di Majelis Miftahussubhan menunjukkan bahwa majelis taklim masih menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk bertemu, belajar, berdiskusi, dan memperkuat silaturahmi.

Dari Pancagalih, pesan yang dibawa bukan hanya tentang satu hadis atau satu kitab, tetapi juga tentang pentingnya guru, sanad, adab, keluarga, dan keberadaan majelis ilmu sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah sebagai ruang mempererat persaudaraan antara jamaah, pengurus majelis, para ulama, dan masyarakat setempat.

Tamasya Putaran 184 pun menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk mendekatkan ilmu kepada masyarakat dari majelis ke majelis, dari kampung ke kampung, dan dari generasi ke generasi.

Dan kami selaku Penanggung Jawab Kegiatan Tamasya Berterima Kasih Sebesar-besarnya Kepada Para Pendukung Acara, yang Sudah Terlibat sebagai Donatur, Membantu Dengan Tenaga, Doa dan Lain Sebagainya,

Dan Kami Juga Selaku Penanggung Jawab juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Minggu yang akan datang.

Untuk informasi lebih lanjut:

Konfirmasi Pengajuan Tempat

Penanggung Jawab Tamasya
Yogi Setiawan
(089638202536)

Infaq Acara Transfer Ke :
BSI ( Bank Syariah Indonesia )
A/n Majlis Ta’lim Darul Futuh
7755777883
( Konfirmasi ke Nomor WA diatas)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Klo Mau Lebih Lengkapnya Mari Nonton Link di bawah ini 👇

https://www.facebook.com/share/v/19JTD29MmD/

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kategori Terpopuler

Kategori Nasehat

Scroll to Top