Tamasya ke 180 – Kyai Ahmad Said Ajak Jamaah Menghidupkan Mahabbah kepada Rasulullah dan Menunaikan Hak Pasangan

BOGOR — Tamasya (Ta’lim dan Maulid Sabtu/Ahad) kembali digelar dalam suasana penuh kekeluargaan pada Minggu, 30 Agustus 2026. Memasuki Putaran ke-180, kegiatan yang dihadiri puluhan peserta ini berlangsung di kediaman Bapak Yanuar Wicaksono, Perumahan Griya Palem, Batu Hulung, Bogor.

Rangkaian acara diawali dengan Tartibul Fatihah, pembacaan Maulid Simtudurror, tahlil dan doa, dilanjutkan sambutan tuan rumah, penampilan Prostadz, serta tausiyah dari narasumber utama, Kyai Ahmad Said.

Dalam sambutannya, Bapak Yanuar Wicaksono menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT karena kediamannya dipercaya menjadi tempat pelaksanaan Tamasya. Ia berharap keberkahan senantiasa menyertai seluruh jamaah dan kegiatan tersebut.

Sementara itu, Bapak Awang menyampaikan sambutan secara singkat. Namun, ia turut memberikan warna tersendiri dengan me-request qasidah “Thālamā Asykū Gharāmī”, yang kemudian menjadi bagian dari suasana kecintaan jamaah kepada Rasulullah ﷺ.

Kisah Abu Lahab dan Pelajaran tentang Kegembiraan atas Kelahiran Nabi ﷺ

Pada tausiyah awal, Prostadz Kang Labib mengangkat kisah Abu Lahab dan Tsuwaibah sebagaimana dibahas dalam sejumlah kitab ulama, termasuk Shahih Bukhari dan I‘anah ath-Thalibin.

Disampaikan bahwa ketika Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab mengenai kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, Abu Lahab menunjukkan kegembiraannya dengan memerdekakan Tsuwaibah.

Kang Labib juga mengutip keterangan yang dinukil para ulama mengenai adanya keringanan azab Abu Lahab pada hari Senin karena perbuatannya tersebut. Namun, hal itu tidak berarti Abu Lahab selamat dari neraka, karena ia tetap berada dalam kekufuran dan mendapat ancaman sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Lahab.

Pesan yang ditekankan adalah pentingnya memahami bagaimana rasa gembira dan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ dapat menjadi bagian dari amal seorang Muslim.

Kyai Ahmad Said: Jangan Sampai Kita Tidak Memiliki “Jalur” Menuju Rasulullah ﷺ

Mengawali tausiyah utama, Kyai Ahmad Said mengajak jamaah merenungkan satu hal penting: sudahkah kita memiliki jalan untuk mendekat dan bersama Rasulullah ﷺ?

Ia kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan gambaran dahsyatnya penyesalan manusia di akhirat.

Kyai Ahmad Said mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’arij:

«يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ»

“Orang yang berdosa itu ingin sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab pada hari itu dengan anak-anaknya.”

Menurutnya, ketika azab Allah diperlihatkan, manusia akan berusaha mencari berbagai macam tebusan. Anak, keluarga, bahkan seluruh yang dimilikinya ingin dijadikan tebusan. Namun, semuanya tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari azab Allah.

Karena itu, kesempatan membangun kedekatan dengan Rasulullah ﷺ harus dilakukan sejak masih hidup di dunia.

“Wah, kita selama hidup ini sudah punya jalur enggak? Punya jalan enggak untuk bisa bersama dengan Nabi kita Muhammad ﷺ?” demikian salah satu pertanyaan reflektif yang disampaikan Kyai Ahmad Said kepada jamaah.

Energi “Senang” Bisa Menjadi Ibadah

Salah satu inti tausiyah Kyai Ahmad Said adalah tentang senang, cinta, dan mahabbah.

Menurutnya, rasa senang bukan sesuatu yang sepele. Energi tersebut dapat membawa seseorang kepada kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber keburukan apabila salah menyalurkannya.

Ia mengingatkan agar seorang Muslim tidak salah dalam menempatkan rasa cinta dan kegembiraan.

“Salurkan energi cinta kita, mahabbah, senang kita kepada yang memang seharusnya dan layak,” pesannya.

Rasulullah ﷺ, lanjutnya, merupakan sosok yang sangat layak dicintai karena kesempurnaan akhlak, ilmu, kedudukan, dan kebaikannya.

Karena itu, menurut Kyai Ahmad Said, ibadah yang dilakukan dengan rasa cinta dan kegembiraan memiliki dimensi yang berbeda dibandingkan ibadah yang hanya dilakukan karena keterpaksaan.

Sedekah dengan Sesuatu yang Dicintai

Untuk memperkuat pembahasan, Kyai Ahmad Said mengutip firman Allah SWT:

«وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا»

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”

Ia mengkritik kebiasaan memberikan sesuatu yang sudah tidak disukai atau tidak terpakai sebagai sedekah.

Menurutnya, justru nilai pengorbanan terlihat ketika seseorang mampu memberikan sesuatu yang masih dicintai dan dibutuhkannya.

“Sayangnya itu jangan dikasih ke barang. Sayangnya itu pakai ibadah,” pesannya.

Kajian Berlanjut pada Hak Suami dan Kewajiban Istri

Pada sesi berikutnya, kajian memasuki pembahasan Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, khususnya hadis mengenai hak suami yang menjadi kewajiban seorang istri.

Kyai Ahmad Said membacakan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

«لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا»

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dengan pembahasan mengenai kedudukan dan hak suami dalam rumah tangga.

Kyai Ahmad Said kemudian menjelaskan bahwa ungkapan “sujud” dalam hadis tersebut bukan perintah untuk sujud kepada manusia, karena sujud kepada selain Allah tidak dibenarkan. Ungkapan itu merupakan penegasan mengenai besarnya hak suami yang harus diperhatikan seorang istri.

Ia juga menekankan bahwa pembahasan hak dan kewajiban tidak hanya berlaku kepada istri.

“Jadi masing-masing punya kewajiban yang menjadi hak pasangannya. Istri kewajibannya apa? Itu hak suaminya. Suami kewajibannya apa? Itu hak istrinya,” jelasnya.

Pesan untuk Suami: Jangan Hanya Menuntut, tetapi Juga Memaafkan

Menariknya, Kyai Ahmad Said tidak hanya memberikan penekanan kepada kaum perempuan. Ia juga mengingatkan para suami agar memahami tanggung jawab mereka.

Ketika seorang istri memiliki kekurangan dalam menjalankan kewajibannya, suami dituntut untuk mampu memaafkan, meridhai, membimbing, dan mengangkat semangat istrinya, bukan justru memperburuk keadaan.

Pesan tersebut menjadi penyeimbang penting dalam pembahasan hak suami dan kewajiban istri.

Kajian juga mengajak para orang tua untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anak sejak dini, termasuk pemahaman mengenai tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga.

Tamasya: Mengaji, Bersilaturahmi, dan Menghidupkan Mahabbah

Putaran ke-180 Tamasya tidak hanya menjadi forum kajian keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan membangun kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Melalui pembacaan Maulid Simtudurror, qasidah, kajian kitab, dan tausiyah, para peserta diajak untuk tidak sekadar memahami ilmu secara teori, tetapi juga menghadirkan rasa cinta dan kegembiraan dalam menjalankan agama.

Tamasya diharapkan terus menjadi ruang belajar bersama yang mempertemukan ilmu, amal, silaturahmi, dan mahabbah dalam suasana kekeluargaan.

Memasuki putaran ke-180, semangat tersebut menjadi semakin relevan: bukan hanya seberapa banyak kita mengaji, tetapi seberapa besar ilmu itu mampu menumbuhkan cinta kepada Allah, Rasulullah ﷺ, serta memperbaiki akhlak dan hubungan antarsesama.

Dan kami selaku Penanggung Jawab Kegiatan Tamasya Berterima Kasih Sebesar-besarnya Kepada Para Pendukung Acara, yang Sudah Terlibat sebagai Donatur, Membantu Dengan Tenaga, Doa dan Lain Sebagainya,

Dan Kami Juga Selaku Penanggung Jawab juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Minggu yang akan datang.

Untuk informasi lebih lanjut:

Konfirmasi Pengajuan Tempat

Penanggung Jawab Tamasya
Yogi Setiawan
(089638202536)

Infaq Acara Transfer Ke :
BSI ( Bank Syariah Indonesia )
A/n Majlis Ta’lim Darul Futuh
7755777883
( Konfirmasi ke Nomor WA diatas)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Klo Mau Lebih Lengkapnya Mari Nonton Link di bawah ini 👇

https://www.facebook.com/share/v/1KpqVJSDBi/

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kategori Terpopuler

Kategori Nasehat

Scroll to Top