Tamasya ke 178 – Kyai Ahmad Said Soroti Krisis Kepemimpinan Umat, dari Rumah Tangga hingga Salat Jumat

CILUBANG, BOGOR — Program TAMASYA (Ta’lim & Maulid Sabtu/Ahad) Putaran ke-178 kembali digelar pada Sabtu, 9 Agustus 2026, bertempat di kediaman Abah Khoer, kawasan Cilubang Cifor, Bogor. Kegiatan yang dihadiri puluhan peserta tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan, keilmuan, dan penguatan nilai-nilai keislaman.

Rangkaian acara diawali dengan Tartibul Fatihah, pembacaan Maulid Simtuddurror, tahlil dan doa, sambutan tuan rumah, penampilan Prostadz, serta tausiyah utama yang disampaikan Kyai Ahmad Said, Pimpinan MT & PONPES Darul Futuh.

Dalam sambutannya, Abah Khoer menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga dan saudara-saudara yang telah membantu terselenggaranya kegiatan TAMASYA. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh jamaah atas keterbatasan tempat, sambutan, maupun jamuan yang tersedia.

“Mudah-mudahan Allah mengampuni segala kesalahan, kekhilafan dan kekurangan saya,” ungkap Abah Khoer.

Dari Mengidolakan Rasulullah hingga Kesungguhan Menuntut Ilmu

Sesi tausiyah awal disampaikan Prostadz Kang Furqon. Ia mengisahkan perjalanan awal mengenal Majelis Ta’lim Darul Futuh pada 2013 di Masjid Jamjum, Dramaga.

Salah satu pesan Kyai yang masih membekas hingga kini adalah pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang menjadi idola seorang Muslim?

Menurut Kang Furqon, sangat mudah bagi seseorang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ adalah idolanya. Namun, persoalannya adalah seberapa sungguh-sungguh seseorang meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

“Bibir kita mudah mengatakan mengidolakan Rasulullah, tetapi apakah perilaku kita setiap hari sudah mencontoh Rasulullah dan para ulama?” demikian refleksi yang ia sampaikan.

Ia juga menceritakan bagaimana perjalanan belajarnya sempat terhenti. Namun pada 2026, ia kembali mendapatkan kesadaran pentingnya ilmu. Menurutnya, setiap ibadah harus dilakukan berdasarkan ilmu.

Saat ini ia aktif mengikuti kegiatan Mudzakarah, setelah sebelumnya mendalami ilmu fikih, akidah, dan tasawuf kepada para guru. Ia pun memohon doa agar dapat terus istiqamah dalam menuntut ilmu.

Kyai Ahmad Said: Setiap Orang adalah Pemimpin dan Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Dalam tausiyah utama, Kyai Ahmad Said mengajak jamaah melanjutkan kajian Kitab Riyadh Shalihin karya Imam Nawawi hingga hadis ke-283.

Kajian berfokus pada hadis Nabi Muhammad ﷺ:

“كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ”

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Kyai Ahmad Said menegaskan bahwa hadis tersebut tidak hanya berbicara mengenai pemimpin negara. Kepemimpinan memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Seorang pemimpin negara memiliki tanggung jawab terhadap rakyatnya. Seorang laki-laki bertanggung jawab atas keluarganya. Seorang istri bertanggung jawab atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Bahkan setiap orang yang dipercaya mengelola sesuatu memiliki amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

“Jangan sampai salah memahami kepemimpinan. Istri juga disebut pemimpin, tetapi bukan berarti kemudian memimpin suaminya. Setiap kepemimpinan memiliki wilayah tanggung jawab masing-masing,” jelasnya.

Mengutip penjelasan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, Kyai Ahmad Said menjelaskan bahwa ra’i adalah orang yang menjaga, dipercaya, dan berkewajiban mengupayakan kemaslahatan sesuatu yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Dengan demikian, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang menuntut keadilan, penjagaan, dan tanggung jawab.

Dari Presiden hingga Suami-Istri: Semua Akan Ditanya

Kyai Ahmad Said kemudian memperluas pembahasan. Menurutnya, konsep kepemimpinan dalam Islam berlaku mulai dari tingkat tertinggi hingga lingkungan paling kecil.

Presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, ketua RW, ketua majelis, pimpinan pesantren, hingga kepala keluarga semuanya memiliki amanah sesuai wilayah tanggung jawab masing-masing.

Ia mengingatkan bahwa semakin besar amanah seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Kepemimpinan, lanjutnya, tidak boleh hanya mengejar kepentingan duniawi. Pemimpin juga memiliki tanggung jawab terhadap kemaslahatan agama orang-orang yang dipimpinnya.

“Yang paling hakiki adalah kemaslahatan agama. Kalau agamanya benar, dunia dan akhirat akan diarahkan kepada kebaikan. Tetapi kalau agamanya tidak benar, dunia bisa hilang dan akhirat pun melayang,” pesannya.

Salat Jumat dan Tanggung Jawab Pemimpin

Salah satu pembahasan menarik dalam kajian tersebut adalah hubungan hadis kepemimpinan dengan pelaksanaan salat Jumat.

Kyai Ahmad Said menjelaskan bagaimana Imam Bukhari menempatkan hadis “Kullukum ra’in” dalam bab yang berkaitan dengan pelaksanaan salat Jumat di kota maupun pedalaman.

Menurut penjelasan yang ia bawakan dari para ulama, pemimpin memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan kebutuhan keagamaan masyarakat yang berada dalam wilayah kepemimpinannya.

Karena itu, menurutnya, persoalan pelaksanaan salat Jumat semestinya tidak dilepaskan dari sinergi antara *ulama, masyarakat, dan pemimpin wilayah.*

Ia mengkritisi fenomena banyaknya tempat pelaksanaan Jumat dalam satu kawasan tanpa adanya koordinasi yang baik.

“Jangan sampai masjidnya banyak, tetapi persatuannya justru hilang. Jumat seharusnya menjadi momentum berkumpulnya umat Islam dalam satu arah dan satu tujuan,” ujarnya.

Kyai Ahmad Said juga mengingatkan para pengurus masjid agar tidak gegabah dalam persoalan penyelenggaraan Jumat dan senantiasa memperhatikan ketentuan fikih serta koordinasi dengan pihak yang berwenang.

Krisis Kepemimpinan Dimulai dari Rumah

Bagian paling dekat dengan kehidupan jamaah adalah pembahasan mengenai keluarga.

Kyai Ahmad Said menegaskan bahwa seorang suami bukan hanya bertanggung jawab menyediakan kebutuhan materi keluarga. Ia juga memiliki kewajiban membimbing istri dan anak-anak dalam urusan agama.

Ia mengaitkannya dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Menurutnya, pendidikan agama dalam keluarga tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan atau majelis taklim.

Seorang suami harus memastikan istrinya memahami ilmu dasar agama. Demikian pula orang tua harus membekali anak dengan ilmu yang dapat menjaga mereka dari kesalahan dan kemaksiatan.

“Jangan hanya berpikir bagaimana menambah anak, tetapi pikirkan juga bagaimana menyelamatkan anak-anak dari neraka,” pesan Kyai Ahmad Said kepada para jamaah.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam kajian: keluarga adalah kepemimpinan pertama yang akan dipertanggungjawabkan.

TAMASYA Bukan Sekadar Berkumpul

Putaran ke-178 TAMASYA kembali menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang berkumpulnya jamaah, tetapi juga menjadi forum untuk memperkuat tradisi ta’lim, maulid, mudzakarah, dan pembinaan umat.

Dari pembahasan tentang keteladanan Rasulullah ﷺ, pentingnya ilmu, hingga tanggung jawab pemimpin dan keluarga, kajian tersebut mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

Pesan utamanya sederhana namun mendalam:

Setiap orang adalah pemimpin. Dan tidak ada kepemimpinan yang bebas dari pertanggungjawaban.

TAMASYA Putaran ke-178 pun ditutup dengan doa, dengan harapan seluruh jamaah diberikan taufik, inayah, kesehatan, serta keistiqamahan dalam menuntut ilmu dan mengamalkan ajaran Rasulullah ﷺ.

Dari Cilubang, pesan TAMASYA kali ini menjadi pengingat: sebelum menuntut pemimpin memperbaiki umat, setiap orang perlu terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri—sudahkah ia menunaikan amanah kepemimpinan yang ada di tangannya?

Rekaman kajian bisa disimak disini:

https://www.facebook.com/share/v/1DZWPE6qV8/

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kategori Terpopuler

Kategori Nasehat

Scroll to Top