Tamasya ke 174 – Sepinya Majelis Ilmu Adalah Alarm Kemunduran Umat, Saatnya Kembali kepada Warisan Nabi

Kyai Ahmad Sa’id: Sepinya Majelis Ilmu Adalah Alarm Kemunduran Umat, Saatnya Kembali kepada Warisan Nabi

Bogor, 12 Juli 2026 – Semangat menuntut ilmu dan menghidupkan tradisi keilmuan Islam kembali terasa dalam *TAMASYA (Ta’lim dan Maulid Sabtu/Ahad) Putaran ke-174* yang diselenggarakan di kediaman *Bapak Ahmad Farhan dan Ibu Siti Nuriah*, Perumahan Ciomas Permai, Gang Sawah VI, Ciomas Bogor, Sabtu (12/7/2026). Kegiatan yang dihadiri ratusan jamaah ini sekaligus menjadi momentum tasyakuran atas kelahiran putra pertama keluarga tuan rumah, Muhammad Zein El Fatih.

Rangkaian acara diawali dengan Tartibul Fatihah, pembacaan Maulid Simthud Durar, sambutan tuan rumah, penampilan Prostadz, tausiyah dari tamu undangan, hingga penyampaian materi utama oleh Kyai Ahmad Sa’id, Pimpinan Majelis Taklim dan Pondok Pesantren Darul Futuh.

Dalam sambutannya, Bapak Ahmad Farhan mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan sehingga keluarganya dapat menjadi tuan rumah penyelenggaraan TAMASYA sekaligus menggelar tasyakuran kelahiran putra pertamanya. Ia berharap sang anak tumbuh menjadi generasi saleh yang meneruskan perjuangan Rasulullah SAW serta memohon doa seluruh jamaah agar keluarganya diberi kemampuan mendidik amanah tersebut dengan baik. Bapak Farhan juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam penyambutan para tamu.

Pada sesi tausiyah pertama, Ustadz Abdul Aziz Mantarena berbagi pengalaman perjalanan menuntut ilmu yang menurutnya membutuhkan proses panjang, mulai dari berpindah-pindah majelis hingga mengikuti program mudzakarah dan mendalami kitab-kitab klasik (kitab kuning). Beliau kemudian menjelaskan salah satu sunnah dalam adzan, yaitu tarji’, sebagaimana diterangkan oleh Habib Muhammad Ba’Alawi Al-Aydarus, yakni membaca dua kalimat syahadat secara perlahan terlebih dahulu sebelum mengulanginya dengan suara keras.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan tamu spesial, Ustadz Muhammad Kahfi Mustaqim, alumni Pesantren Sulaimaniyah, Istanbul, Turki. Dalam pemaparannya, ia menceritakan pengalaman belajar selama tiga tahun di Turki, termasuk perbedaan tradisi fikih antara Turki yang mayoritas mengikuti mazhab Imam Abu Hanifah dan Indonesia yang mayoritas bermazhab Imam Syafi’i.

Ia juga menggambarkan tantangan dakwah di Turki yang masih dipengaruhi paham sekuler sehingga minat generasi muda untuk mondok tidak sebesar di Indonesia. Karena itu, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk mensyukuri kesempatan menuntut ilmu agama yang masih terbuka luas. Menutup pesannya, ia menyampaikan sebuah hikmah yang mendapat perhatian jamaah:

اُنْظُرْ إِلَى مَا قِيلَ، وَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَنْ قَالَ

“Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya.”

Dalam tausiyah , Kyai Ahmad Sa’id Sebagai Narasumber Utama mengingatkan bahwa salah satu tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah semakin jauhnya masyarakat dari majelis ilmu dan warisan keilmuan para ulama.

Menurut beliau, ukuran kemajuan umat bukan hanya dilihat dari pembangunan fisik, tetapi dari sejauh mana masyarakat mencintai Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab para ulama, serta istiqamah menghadiri majelis ilmu. Ia menilai fenomena semakin sepinya pengajian harus menjadi bahan muhasabah bersama.

Kyai Ahmad Sa’id mengajak umat Islam untuk kembali menjadikan Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi sebagai panduan membangun karakter seorang muslim yang saleh. Beliau menjelaskan bahwa kitab tersebut disusun Imam An-Nawawi sebagai upaya membangkitkan kualitas umat setelah dunia Islam mengalami kemunduran akibat serangan Tartar.

Beliau juga menegaskan bahwa lahirnya generasi saleh tidak dapat dipisahkan dari lingkungan yang baik, keluarga yang mencintai ilmu, guru yang ikhlas, serta budaya membaca dan mengkaji kitab-kitab para ulama.

Dalam kesempatan itu, beliau turut mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam berdakwah, memperbanyak taubat, memperkuat kesabaran, memperluas infak di jalan Allah, serta membangun kembali tradisi literasi Islam yang mulai ditinggalkan.

Di akhir tausiyahnya, Kyai Ahmad Sa’id mengajak seluruh jamaah untuk terus menghidupkan majelis ilmu, memperbanyak hadir di pengajian, membiasakan membaca kitab para ulama, serta mendidik generasi muda agar tumbuh menjadi pewaris perjuangan Rasulullah SAW.

TAMASYA Putaran ke-174 kembali menegaskan bahwa majelis ilmu bukan sekadar forum pengajian rutin, melainkan ruang membangun ukhuwah, memperkuat tradisi keilmuan Islam, serta menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan istiqamah dalam memperjuangkan ajaran Rasulullah SAW.

Dan kami selaku Penanggung Jawab Kegiatan Tamasya Berterima Kasih Sebesar-besarnya Kepada Para Pendukung Acara, yang Sudah Terlibat sebagai Donatur, Membantu Dengan Tenaga, Doa dan Lain Sebagainya,

Dan Kami Juga Selaku Penanggung Jawab juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Minggu yang akan datang.

Untuk informasi lebih lanjut:

Konfirmasi Pengajuan Tempat

Penanggung Jawab Tamasya
Yogi Setiawan
(089638202536)

Infaq Acara Transfer Ke :
BSI ( Bank Syariah Indonesia )
A/n Majlis Ta’lim Darul Futuh
7755777883
( Konfirmasi ke Nomor WA diatas)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Klo Mau Lebih Lengkapnya Mari Nonton Link di bawah ini 👇

https://www.facebook.com/share/v/1CoPEyU4j3/

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kategori Terpopuler

Kategori Nasehat

Scroll to Top